Friday, January 23, 2015

Arti Memiliki

Posted by KHUTBAH | 5:27 PM Categories: , ,


Terkesan dengan ungkapan seorang penulis: “apakah arti memiliki ketika diri sendiri adalah bukan milik kami”. Apakah arti kehilangan ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan dan sebaliknya,  kehilangan banyak, saat kami menemukan.”

Pernyataan tersebut merupakan sebuah penegasan akan sikap dan persepsi seorang mukmin sejati tentang kepemilikan yang sebenarnya sudah ada afirmasinya dalam prinsip ajaran agama, “innalillahi wa inna ilaihi rojiuun” sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah”.
Segala sesuatu yang melekat pada diri kita menyangkut tubuh, jiwa, status atau kehormatan adalah anugerah Sang Pencipta. Ia adalah fasilitas yang kita terima sebagai amanah agar dipergunakan, dijalankan atau disampaikan.
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.(Q.S Annisa;58)

Hidup sejatinya merupakan medan tanggung jawab untuk menjaga dan mempergunakan fasilitas yang dianugerahkan Allah kepada kita. Dan saat Pemiliknya akan menariknya kembali, maka sudah menjadi hak pemiliknya kapan saja Ia mau. Saat seperti inilah menjadi apa yang dinamakan ‘musibah’ bagi manusia. Kehilangan akan banyak hal menjadi pengalaman hidup yang tak terbantahkan. Kehilangan pekerjaan, kehilangan jabatan, kehilangan harta benda, kehilangan orang-orang tercinta bahkan kematian diri sendiri semua akan datang secara pasti menjadi bagian perjalanan hidup manusia. 

Kapan, di mana dan bagaimanapun saja musibah atau penderitaan akan menghampiri kita semua dengan berbagai sebab dan kejadiannya. Boleh jadi karena sakit, pembunuhan atau aksi teror, bencana alam ataupun kecelakaan kendaraan dan sebagainya. Hidup adalah antrean panjang menuju kematian. Kita tinggal menunggu giliran. Betapa hidup adalah memang untuk terluka. Kita terlahir dalam keadaan menangis dan saat kita matipun semua orang akan menangis. Betapa manusia adalah makhluk yang begitu berat memikul beban. Selama nafas masih dikandung badan, manusia pasti mempunyai berbagai persoalan. Bahagia dan tawa yang nampak hanya sekilas permukan pada manusia yang sebenarnya rapuh dan penuh kecamasan. Nabi Saw mengisyaratkan kepada para sahabat dan tentunya kepada kita semua akan getirnya kehidupan; “Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, tentunya kalian akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis” (HR.Bukhori-Muslim).
 
Jamaah sholat Jum’at yang dirahmati Allah.

Dan saat tidak ada satupun yang tertinggal yang menjadi milik kita, maka sabar dan syukur menjadi satu-satunya hal yang dapat kita miliki. Syukur dan sabar kemudian menjadi alat untuk mendamaikan antara kesenangan dan penderitaan yang kerap menghampiri hidup manusia. Syukur dan sabar menjadi satu-satunya harapan yang akan tetap menghidupkan dimensi lain manusia saat semuanya yang fisikal akan hancur dan terkubur. Sabda Nabi; “ Sungguh unik perkara orang mukmin itu, semua perkaranya adalah baik. Jika mendapat kebaikan ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya, dan jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itu menjadi sebuah kebaikan baginya, dan ini hanya terjadi pada orang mukmin.”
 
Jamaah sholat Jum’at yang dirahmati Allah

Tidak ada memiliki, tidak ada kehilangan dan tidak ada menemukan. Semuanya berjalan berkelindan dalam irama kebaikan Tuhan. Kesakitan dalam hidup adalah nafas alam ketika sesuatu akan menjadi bernilai atau terlahir kembali. Ada sebuah pandangan yang menyatakan bahwa “penderitaan adalah lorong keTuhanan untuk menjadikan “kerang biasa” menjadi “kerang luar biasa” itulah kerang yang didalamnya tersimpan ‘mutiara’ yang sangat bernilai setelah ditempa dalam kesakitan dan kegelapan. Dan sekali lagi kesabaran mengambil perannya yang paling mengagungkan.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. (QS. Az-Zumar:10)

Sementara orang yang tidak mampu mendamaikan antara kenikmatan dan penderitaan, maka sepertilah ia apa yang diungkapkan dalam al-Qur’an;
فَأَمَّا اْلإِنسَانُ إِذَا مَاابْتَلاَهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّآ إِذَا مَاابْتَلاَهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata:"Tuahanku telah memuliakanku".
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata:"Tuhanku menghinakanku. (Q.S.AlFajr:15-16)

Jamaah sholat Jum’at yang dirahmati Allah

Bahwa prinsip-prinsip ajaran agama akan selalu mengarahkan kita untuk selalu menangkap kenyataan sebagai kehendak Tuhan yang memiliki tujuan. Agama menawarkan satu persepsi yang membuat kita harus memaklumi segala keadaan dan kejadian. Sebagai penutup mari kita renungkan ayat al-Qur’an berikut :
وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216).

2 comments:

  • RSS
  • Delicious
  • ini apa
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube