Tuesday, September 4, 2012

Otoritas Akal

Posted by KHUTBAH | 5:26 PM Categories:

Isi Khutbah
Konon malaikat Jibril as. datang kepada Nabi Adam as. menyampaikan bahwa dia diperintahkan Tuhan agar Adam as. memilih salah satu dari tiga pilihan yang disodorkan; otoritas akal, agama dan  rasa malu. Maka Adam as. memilih akal. Jibril as. pun menyatakan kepada rasa malu dan agama agar kembali. Tetapi keduanya berkata: “Kami diperintahkan Allah untuk selalu bersama akal, dimanapun dia berada, karena itu kami tidak akan pergi”.
Dari riwayat yang dinisbahkan kepada Sayyidina Ali ra. tersebut saya menyimpulkan bahwa cukup bagi Allah memberikan tiga instrument; akal, agama, dan rasa malu kepada manusia sebagai alat dalam menjalani tuntunan hidupnya yang benar. Sudah merupakan ketetapan Allahlah melengkapi manusia dengan ketiga instrument tersebut dan pun sudah menjadi takdir Allahlah menjadikan ketiga instrument tersebut dalam kadar atau potensinya masing-masing yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam mencapai tujuan abadi hidup manusia.
Kekuatan akal manusia sungguh luar biasa. Akal lah yang menjadikan manusia menjadi makhluk istimewa diantara makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Dengan akal manusia dapat membedakan yang benar dan buruk, yang berguna dan yang tidak berguna baginya. Dengan akal manusia dapat mengekang hawa nafsunya yang setiap saat akan menjerumuskannya dalam kehinaan. Dengan akal manusia beranjak dewasa dalam fisik dan kehalusan budi pekertinya. Dengan akal manusia memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan sebagai jalan mempermudah dan mengatasi berbagai persoalan hidupnya.
Dengan kapasitasnya yang mengagumkan, memiliki 150 milyar sel dalam otak, memiliki kecepatan melebihi kecepatan cahaya, mampu menyimpan lebih dari 2 juta informasi dalam satu detik. Sungguh gambaran ini menunjukan kesungguhan Allah menjadikan manusia dalam bentuk yang paling sempurna (QS. At-tin : 4) untuk menjadikan manusia mengemban tugas yang sungguh berat menjadi wakil Tuhan di bumi dalam memenej hidup dan kehidupan.
Jamaah sholat Jum’at yang berbahagia
Maka setelah Tuhan, dengan kapasitas akal dan agamanya, manusialah yang berkehendak menentukan arah hidupnya. Dengan QudrahNya, Allah sudah membekali manusia qudrah (potensi) dan petunjuk untuk mandiri.
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى
yang menciptakan,dan menyempurnakan (penciptaan-Nya).)dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. (QS. 87:3)

Bila Allah memberikan potensi kepada burung untuk terbang dengan instingnya, maka halnya dengan manusia Allah menganugerahkan akal untuk bertindak dan agama sebagai rambu-rambu jalannya.
Manusia kemudian menjadi kepanjangan tangan dari tangan tuhan (dia adalah khalifah-wakil Allah di bumi). Maka tidak ada persoalan hidup yang diluar kehendak dan kendali manusia. Dan segenap baik-buruk yang menjadi konsekuensinya menjadi tanggung jawab kita manusia. Maka takdir hidup adalah memilih. Dan tidak ada lagi keberatan manusia atas garis nasibnya saat ini, karena bagaimanapun itu merupakan pilihan hidupnya kemarin. Dan tidak ada lagi rasa penyesalan dan putus asa pada manusia, karena segenap keburukannya adalah konsekuensi dari tindakannya sebelumnya. Dan tidak ada lagi mentalitas fatalisme-yang menyerahkan nasib hidup sepenuhnya ditangan Allah, pasrah terhadap keadaan tanpa kita berbuat melakukan sesuatu.
Adalah sebuah sikap kehendak memilih sebagaimana dicontohkan oleh syyidina umar ra. Ketika beliau membatalkan kunjungannya ke suatu negeri yang sedang terjangkit wabah. Seorang  sahabat menggugat tindakan umar yang menyalahi takdir Allah atas pilihannya itu. Namun Umar menegaskan ia memilih takdir Allah yang satu terhadap takdir Allah yang lainnya. Demikian juga sikap Ali ra. Yang hampir celaka oleh niat jahat kaum kafir yang ingin menjatuhkan batu kepadanya. Seseorang memberitahukan kepadanya, lalu ia menghindar.
Ilustrasi di atas menunjukan kepada kita betapa kita tidak bisa menyangkal akan kuasa Allah memberikan otoritas akal kepada manusia begitu besarnya. Maka tidak ada keburukan yang kita serahkan kepada suratan takdir. Dan Allah menegaskan dalam hal ini bahwa tidak berbuat kezaliman sedikitpun terhadap hambaNya. Akan tetapi manusialah yang sering lalai dan tidak menggunakan akalnya.
Jamaah Sholat Jum’at yang berbahagia
Manusia bertanggung jawab terhadap hasil pilihannya sendiri
وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُر
Dan katakanlah:"Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".
Allah sudah memberikan pilihan jalan yang lurus, tinggal manusia kearah mana ia akan menempuh
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. 76:3)

Demikianlah manusia dengan taqdir akalnya, akan menentukan sendiri takdir hidupnya selanjutnya.
Berikut adalah ungkapan bebarapa orang bijak mengeni hal ini :
Kekuatan dalam hidup adalah kekuatan memilih (Confusius)
Prinsip perkembangan paling kuat terdapat dalam memilih (George Elliot)
Pilihan yang menentukan kehidupan kita, bukan keadaan (Bernard Shaw)
Pilihan anda saat ini adalah awal kehidupan anda yang baru (Einstein)

Demikianlah Allah akan menyerahkan masa depan dunia ini kepada kaum berakal. Betapa Allah sangat mengapresiasi orang-orang yang menggunakkan akalnya dan sebaliknya Allah menghinakan orang-orang yang tidak menggunakan akalnya, berikut adalah petikan beberapa ayat al-Qur’an :
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَآءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ اْلأَخِرَةَ وَيَرْجُوا رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا اْلأَلْبَابِ
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya Katakanlah:"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. 39:9)

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لاَ يَسْمَعُ إِلاَّ دُعَآءً وَنِدَآءً صُمُّ بُكْمٌ عُمْىُُ فَهُمْ لاَيَعْقِلُونَ
Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS. 2:171
إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لاَيَعْقِلُونَ
Sesungguhnya binatang (mahluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. (QS. 8:22)

Jamaah sholat Jum’at yang berbahagia

Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat memaksimalkan potensi akal dengan sepenuhnya. Sehingga upaya kita memenej dunia sesuai dengan kehendak Allah mengatur alam raya ini. Semoga Allah senantiasa membimbing  dalam menentukan pilihan-pilihan hidup yang diridai Allah swt.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ الّذِىْ اَكْرَمَ مَنِ اتَّقَى بِمَحَبَّتِهِ, وَاَوْعَدَ مَنْ خَالَفَهُ بِغَضَبِهِ وَعَذَابِهِ, اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَنَّ سَيْدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلى الدِّيْنِ كُلِّهِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ وَخَيْرِ خَلْقِهِ, وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِى سَبِيْلِهِ. اما بعد : فَيَااَيُّهَاالنَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.



Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى اَمَرَنَا بِالاتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَّ ِالهَ ِالاَّ للهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اِيَّاهُ نَعْبُدُ وَاِيَّاهُ نَسْتَعِيْنَ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ. اَلّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ علَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَالله اِتَّقُ اللهَ تَعَالَى رَبَّ الْعَالمَِيْنَ. وَسَارِعُوْ اِلى مَغْفِرَةِ اللهِ الْكَرِيْمِ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَلَى بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَى فِى كِتَابِهِ الْعَزِيْز. اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَلّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلاْحْيَاءِ مِنْهُمُ اْلاَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُّجِيْبُ الدَّعْوَاتِ رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَهً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَالله, اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَلاِْحْسَانَ وَاِيْتَائِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرْ وَالْبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُاللهَ اَكْبَرَ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا يَصْنَعُوْنَ اَقِيْمُوا الصَّلوةَ.

0 komentar:

Post a Comment

  • RSS
  • Delicious
  • ini apa
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube