Friday, June 6, 2014

Tanggung Jawab Seorang Pemimpin

Posted by KHUTBAH | 1:16 PM Categories: , ,


Isi Khutbah

Saat ini masyarakat Indonesia sedang ramai memperbincangkan tentang siapa pemimpin atau presiden RI untuk 5 tahun ke depan. Ramai berbagai sorotan media setiap harinya; talk saw, diskusi dan debat mengambarkan kecenderungan masing-masing orang dalam menentukan pilihannya. Hak dan kebebasan setiap warga untuk menetukan pilihannya, namun kita jangan terjebak dalam fanatisme yang berlebihan terhadap calon atau kelompok yang kita ikuti sehingga kita ikut-ikutan menilai seseorang tanpa dasar dan fakta yang kuat. Seorang novelis ternama Indonesia pernah mengungkapkan dalam salah satu karyanya;”harus adil sejak dalam pikiran, janganlah ikut-ikutan menjadi hakim tentang suatu perkara yang tidak diketahui benar tidaknya”. 


Saat ini banyak orang men-judge orang atau kelompok lain karena ikut-ikutan apa kata orang, karena bersebrangan pilihan politiknya. Kampanye hitam banyak dilakukan mencari-cari apa saja yang bisa dibuat menghantam. Silahkan menentukan pilihan dengan nalar dan nurani tanpa menjelek-jelekan pihak lain tanpa dasar dan fakta.

Jamaah sholat Jum’at yang dirahmati Allah swt.
Keberadaan seorang pemimpin bagi suatu Negara amatlah vital karena menyangkut keputusan-keputusan yang akan diambil dari seluruh persoalan bangsa. Dan persoalan bangsa tentunya adalah menyangkut rasa adil bagi seluruh warga negara dan kehidupan yang sejahtera bagi seluruh penduduk masyarakat. Oleh karena itu, tugas seorang pemimpin amatlah berat karena ia menanggung pemasalahan hidup seluruh warga negara, termasuk rasa aman, terhindar dari segala ancaman dan gangguan. Dibutuhkan pemimpin yang jujur, adil dan amanah dalam memutus segala persoalan dan perkara umat. Inilah yang diperaktekan Nabi Daud as ketika diangkat menjadi khalifah
…….فَاحْكُم بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلاَتُشْطِطْ وَاهْدِنَآ إِلَى سَوَآءِ الصِّرَاطِ
maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus
Ibnu Taimiyah memberikan konklusi bahwa tugas seorang pemimpin adalah menegakan amar-ma’ruf dan nahi mungkar, memerintahkan kebaikan dan menghapus kebathilan.

Menjalankan amanat ini tentnya sangat berat, tidak sembarang orang dapat menjalankannya. Apalagi lingkaran kekuasaan biasanya memberikan banyak peluang kepada kita untuk bertindak sewenang-wenang korup dan lain sebagainya. 

Dan (Ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman:"Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata:"(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman:"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". (QS. 2:124)

Maka balasan dan ganjaran yang dijanjikan Allah pun besar terhadap orang-orang yang berlaku adil dan menjaga amanah. سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ Allah akan memberikan perlindungan pada hari kiamat kelak kepada 7 golongan manusia salah satunya dan yang pertama adalah pemimpin yang adil. Imam Ja’far As-Shodiq meriwayatkan 12 kelompok manusia yang tidak tertolak doanya, salah satunya adalah pemimpin yang adil. 

Demikianlah Allah menjanjikan balasan yang hebat kepada pemimpin yang adil sebanding dengan berat tanggung jawab yang dipikulnya. Namun berat juga balasannya bagi orang-orang yang tidak amanah menjadi seorang pemimpin. Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: "Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)".(H. R. Muslim).

Jamaah sholat Jum’at yang berbahagia
Oleh karena beratnya tanggung jawab seorang pemimpin, maka kisah-kisah para sahabat dan tabiin, dapat kita jadikan teladan tentang sikapnya ketika akan diangkat menjadi khalifah. Meskipun kriteria mereka mumpuni untuk menjadi seorang pemimpin, namun sering dan banyak dari mereka awalnya menolak. Umar bin Khatab menangis tersedu-sedu saat ditunjuk khalifah Abu Bakar untuk menggantikannya menjadi khalifah, dalam tangisannya beliau menyataan :”jika Engkau benar mencintaiku, janganlah kau bebankan amanat itu ke pundaku”. 

Sahabat Nabi Miqdad bin Amr yang pemberani di medan perang pernah ditunjuk oleh baginda Nabi saw sebaga gubernur suatu wilayah, beberapa bulan setelah itu ditanyakan kabarnya, Miqdad bin Amr menjawab:”Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, mulai saat ini saya tidak akan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang. Begitu pula yang dialami Oleh salah satu khalifah Bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz, beliau bermandikan air mata saat ditunjuk sebagai khalifah karena takut tidak mampu memikul beban amanat yang termat berat.

Saat ini orang berlomba dan berebut untuk menjadi pemimpin. berbeda dengan sikap para sahabat di atas. Kekuasaan saat ini begitu menggiurkan. Orientasi kekuasaan bukan lagi sebagai pelayan publik akan tetapi dijadikan alat untuk memperkaya diri lewat berbagai penyalahgunaan kekuasaan;korupsi dan suap menjadi fenomena mutakhir yang lumrah dilakukan oleh para pejabat publik saat ini, bahkan ironisnya, penyalahgunaan kekuasaan dilakukan oleh persona yang merepresentasikan institusi negara sebagai penjaga moral bangsa sekalipun. 

Jamaah Sholat Jum’at yang berbahagia
Islam lewat sabda Nabi Saw memberikan tuntunan bagaimana seharusnya kita mensikapi kepemimpinan ini. Sejatinya kita jangan memberikan kepemimpinan kepada seorang yang memintanya apalagi sangat berambisi untuk mendapatkannya.
يا عبد الرّحمن ابن سمرة لا تسأل ال امارة فانك ان أعطيتها عن غير مسأل أعينت عليها و ان أعطيها عن مسألة وكلت اليها
“wahai Abdurrahmman bin samurah, janganlah engkau meminta kepemimpin. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong. Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong). (HR. Bukhori)
Dalam hadits lain dapat kita baca  sikap Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: "Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. "Maka jawab Rasulullah saw: "Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu".(H. R. Bukhari Muslim).

Fenomena orang yang meminta atau berambisi terhadap suatu jabatan sebenarnya telah diprediksi oleh Nabi saw sendiri sebagaimana sabdanya : انكم ستحرصون على الامارة وستكون نَدَامَةٌ يوم القيامة “sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.

Jamaah sholat Jum’at yang berbahagia
Demikianlah khutbah yang singkat ini mudah-mudahan akan menuntun kita untuk bersikap adil; adil dalam memilih pemimpin dan adil terhadap diri sendiri dan orang lain ketika kita menjadi seorang pemimpin.

2 comments:

  • RSS
  • Delicious
  • ini apa
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube