Wednesday, November 30, 2016

Tabayyun Terhadap Berita

Posted by KHUTBAH | 9:49 PM Categories: , , , ,
Tabayyun terhadap berita. Sekali lagi kita panjatkan syukur atas kedamaian dan kenyamanan hidup di negeri Indonesia yang tercinta ini.  Namun belakangan ini, sepertinya kita terusik dan diuji oleh berbagai issu yang mengancam kedamaian dan ketentraman berbangsa dan bernegara. Perbedaan pendapat dan pandangan yang tajam terhadap suatu kasus sedang menimpa negeri ini. Dua pendapat yang bersebrangan sama-sama mengklaim sebagai pemilik kebenaran, kadang menggunakan dalil yang sama untuk pembenaran masing-masing pendapat. Penghujatan dan caci maki bahkan meyertai setiap pandangan yang mengemuka. Semua kelompok yang bersebrangan sama-sama menyuguhkan beragam informasi yang mereka anggap benar dan valid. Terutama informasi dari internet atau media sosial. Setiap hari kita dijejali beragam informasi yang tumpang tindih, saling bertubrukan, liar berseliweran, cyber opinion war, perang opini siber menurut Parni Hadi-Wartawan Senior, Pemimpin redaksi LKBN Antara.

Lantas bagaimana sikap kita terhadap kenyataan atau fenomena ini sebagai seorang muslim? Al-qur’an memerintahkan kepada kita untuk memeriksa dengan teliti setiap informasi yang kita dengar dan baca, dalam bahasa Al-Quran dikenal dengan bahasa tabayyun (Q,S.Al-hujarat;6).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. 49:6)
Sikap tabayyun inilah yang senantiasa kita jadikan pijakan dalam menilai setiap berita atau informasi. Karena dari informasi yang benar dan terpercaya, kita akan arif dalam menyikapi persoalan, akan bijak dalam membuat kesimpulan dan adil dalam mengambil tindakan. Sikap tabayyun inillah yang dicontohkan Rasulullah saw ketika fitnah yang dilancarkan Abdullah bin Ubay kepada keluarga Rasulullah Saw. dalam hal ini Sayyidah Aisah ra yang dikenal dengan peristiwa Haditsul Ifki (berita bohong). Siti Aisah dituduh menyeleweng dengan salah satu sahabat yang bernama Shafwan bin Al-Muaththol dalam kasus pencarian kalung yang hilang dalam perjalanan pulang setelah selesai peperangan. Terhadap tuduhan ini Rasulullah tidak langsung percaya akan tetapi Rasul meminta beberapa pandangan sahabat baru kemudian menyimpulkan. Dan ternyata berita yang dihembuskan seorang munafik Abdullah bin ubay tersebut adalah bohong dan fitnah. Dan banyak lagi kebohongan-kebohongan Abdullah bi ubay yang bertujuan mengadu domba pada awal-awal perjuangan Islam.

Inilah yang dimaksud dengan tabayyun-meneliti informasi dengan seksama, mencari tau kepada beberapa orang atau sumber terpercaya untuk mencari kebenaran. Yang banyak terjadi justru kita menerima saja informasi tanpa kita teliti terlebih dahulu benar salahnya. Asal sesuai dengan pandangan yang kita anut. Bahkan serta merta kita men-share lagi informasi itu ke publik, kemudian publik membacanya dan publik pun berantai men-share informasi itu kembali dan semakin meluas. Maka pada saat itu, kebenaran tidak lagi didasarkan oleh validnya data dan fakta, akan tetapi kebenaran sudah menjadi milik kerumunan masa.
Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah

Fitnah-fitnah besar yang terjadi pada awal-awal sejarah islam di awali oleh berita-berita bohong yang disebar oleh orang-orang munafiq. Dan kebohongan itu jelas sekali merusak tatanan kehidupan masyarakat. Saat ini kebohongan-kebohongan informasi di internet sangat luar biasa dahsyatnya, yang populer dalam dunia internet disebut hoax. Kita wajib meneliti dulu berita-berita tersebut apakah benar dari sumber yang terpercaya atau hanya berita hoax, yang sengaja disebar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Makanya sekali lagi ditegaskan disini bahwa Al-qur’an memerintahkan kita untuk memeriksa dengan teliti berita yang datangnya dari orang-orang fasik. Orang-orang yang akan berbuat kerusakan. Khawatir kita yang hanya mengikuti dan menerima suatu berita, lalu membagikan lagi berita tersebut kepada orang lain kita termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan namun kita tidak menyadarinya.
 وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ. أَلاَ إِنَّهُم هُمُ الْمُفِسِدُونَ وَلَـكِن لاَّ يَشْعُرُونَ
Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab:"Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan". Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. 2:12)

Sangat menyeramkan memang apabila kita mengikuti berita-berita di media sosial saat ini, hujatan-hujatan kebencian, caci maki, dan pembulian. Orang yang berbeda pendapat dianggap musuh, dituduh kafir atau munafiq dan sebagainya. Perbedaan pendapat harusnya diselesaikan dengan diskusi atau musawarah bukan dengan mencaci atau marah. Adalah ego dan nafsu kitalah yang menguasai akal sehat dan nurani kita. Atas nama membela kebenaran kita cederai nilai-nilai akhlaq dan kesantunan. Baik kita renungkan ungkapan yang sungguh inspiratif ini: "Kalau jadi religius membuatmu mudah menghakimi orang lain, keras, kasar & fitnah. Periksalah! kamu menyembah Tuhanmu atau Egomu?", tulis Omar Imran seperti dikutip rekan Raffi Bekher. Di kutip dari Muhammad Subhi Ibrahim.

Kita mudah terbawa dan termakan hasutan oleh orang-orang yang sengaja ingin mengadu domba dan memecah belah, hingga kita mudah sekali berprasangka buruk terhadap seseorang. Mencari-cari kesalahan orang lain yang hanya didasarkan pada prasangka dan spekulasi. padahal apa yang kita sangkakan belum tentu mengandung kebenaran. Allah sangat mengecam orang-orang yang berperasangka dan suka mencari kesalahan orang lain.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَتَجَسَّسُوا وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 49:12)
Alqurna juga mengecam orang yang saling membenci dan mencaci maki.
يَاأّيُّهَا الّذِينَ ءَامَنُوا لاَيَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلاَنِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلاَتَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلاَتَنَابَزُوا بِاْلأَلْقَابِ بِئْسَ اْلإِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ اْلإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. 49:11).

Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah

Bahwa rasa benci terhadap seseorang atau kelempok orang akan mengancam sikap, perkataan dan tindakan kita untuk berlaku tidak adil. Allah Swt sudah memperingatkan dalam firmanNya Surat Almaidah ayat 8:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ للهِ شُهَدَآءَ بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَئَانُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Semoga kebenaran dan keadilan akan terwujud di negeri ini. Dan Allah akan melindungi kita dari sifat menzalimi dan dari kaum yang menzalimi kita. Dan semoga nilai-nilai persatuan, kerukunan dan persaudaraan selalu menghiasi kehidupan kita dan menjadi benteng dari segala ancaman yang akan mengoyak tatanan hidup bermasyarakat kita. Amiin ya Rabbal alaimiin.





Khutbah II

1 comment:

  • RSS
  • Delicious
  • ini apa
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube