Friday, November 17, 2017

Isi Khutbah

Para ilmuan sosial menamakan kondisi 'perang' berita dan informasi saat ini dengan sebutan Era Post Truth Society. Pada khutbah ini, kita awali dengan firman Allah Swt. QS.2:12, yang berbunyi
أَلاَ إِنَّهُم هُمُ الْمُفِسِدُونَ وَلَـكِن لاَّ يَشْعُرُونَ
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. 2:12)

 Ayat ini turun dilatarbelakangi oleh fenomena kaum munafiq pada masa Rasul Saw. yang sering kali berbuat kerusakan ditengah masyarakat; antara lain, menimbulkan isu-isu negatif, menanamkan kebencian dan perpecahan dalam masyarakat. Mereka melakukan penipuan dan kebohongan. Seolah-olah mereka menampakan pertolongan, seolah-olah mereka mencintai perdamaian, padahal sebenarnya mereka meciptakan huru hara pada masyarakatnya. 

Pengrusakan yang mereka perbuat ini disebabkan karena dalam hati mereka terdapat penyakit; seperti membenci, iri hati, dengki, picik dan bodoh. Dan sungguh anehnya, mereka tidak ‘menyadari’ (la yasy’uruun) bahwa mereka yang telah menimbulkan kerusakan. Thahir Ibnu Asyur tidak memahami kata la yasy’uruun bukan dalam arti tidak memiliki rasa, melainkan tidak memiliki kecerdasan berfikir, atau mereka adalah orang-orang yang dungu (M.Quraish Shihab). Namun sebaliknya, mereka justru mengklaim bahwa mereka adalah orang-orang muslih (…qooluu innama nahnu muslihuun)  kami adalah orang-orang yang selalu melakukan perbaikan dalam masyarakat. Dan cara dalam menyembunyikan kebohongan sangat lihai. Mereka mengemasnya dalam kemasan yang indah; membuat ketidakbenaran seolah kebenaran; Mereka pandai beretorika dan berlogika, padahal sebenarnya mereka melakukan penipuan dan kebohongan.

Jamaah Sholat Jumat yang berbahagia
Meskipun ayat tersebut menggambarkan keadaan masyarakat Madinah empat belas abad yang lalu, namun pada hakikatnya ayat tersebut akan menggambarkan keadaan masyarakat disetiap zaman, kapan dan dimana saja. Termasuk yang kita rasakan dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini. Masyarakat Indonesia saat ini khususnya umat muslim,  seperti terbelah, terpolarisasi dalam berbagai pandangan-pandangan politik, ideologi maupun tafsir agama. Kondisi ini diperparah dengan  tumbuh suburnya berita-berita bohong atau hoaks yang yang dengan halusnya mengemas nalar dan logika, meneguhkan  keyakinan setiap kelompok.

Para ahli ilmu sosial menyebut era ini sebagai era post truth society, yaitu masyarakat paca-kebenaran; iklim sosial politik dimana obyektifitas dan rasionalitas dikalahkan oleh emosi atau hasrat memihak kepada keyakinan meskipun tidak sesuai dengan realitas dan fakta. Dan seiring dengan kemajuan tekhnologi informasi dan komunikasi (dunia internet) yang dengan sangat mudah dan cepatnya informasi tersebar, ekspresi masyarakat era post truth society menemukan momentumnya. Siapa saja bebas dengan mudah meng-up load- berita dan informasi, jagad media sosial tidak terkendali dengan berseliwerannya beragam berita dan opini. Tidak jelas lagi mana fakta, realita atau hanya isu bahkan fitnah. Masyarakat semakin teralienasi ke dalam kelompok-kelompok sealiran. Dan sayangnya, kecenderungan masyarakat yang sudah teralienasi hanya menerima informasi dari kelompok yang sealirannya saja meskipun itu berita palsu atau hoaks dan menutup diri dari informasi yang bersumber dari kelompok lain meskipun itu fakta atau kebenaran.

Pada akhirnya, masyarakat kita saat ini nampaknya sangat nyaman dengan ketidakbenaran berita. Seakan meneguhkan apa yang pernah diungkapkan oleh Adolf Hitler-Jika kebohongan diulangi terus menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya, kebohonganpun diterimanya sebagai kebenaran. Gejala sosial semacam inilah yang sedang bekerja pada era digital saat ini. Masyarakat dikondisikan untuk mengabaikan verifikasi kebenaran. Menurut Hannah Arendt, para pembohong memang berbicara/menalar menurut dengan mengikuti logika dan harapan yang dibohongi. Ini seperti logika berita-berita hoaks yang mau memuaskan keyakinan audiennya. Dan pada akhirnya, ketidakbenaran menjadi pengetahuan dan dianggap kebenaran yang sudah umum. 

Alquran sendiri sebenarnya sudah menyinggung tentang kondisi masyarakat seperti ini yang terpengaruh dan mempercayai informasi yang hanya berpijak pada persangkaan belaka. Dalam dibaca  QS.6:116
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan (Al-Anam:116)

Jamaah Sholat Jumat yang berbahagia
Sejatinya kita tidak mudah percaya dengan ketidakbenaran informasi atau berita. Alquran sudah sangat menegaskan agar kita  memeriksa, meneliti, memverifikasi terlebih dahulu terhadap segala informasi dan berita yang datang ditengah-tengah umat.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. 49:6)
Kerugian yang ditimbulkan oleh kebohongan berita dan kita mempercayainya apalagi ikut menyebarkannya juga teramat besarnya. Dalam QS.24:15 berbicara lebih tegas lagi mengecam para pembuat berita bohong orang-orang yang ikut menyebarkannya:
إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّالَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللهِ عَظِيمٌ
(ingatlah) diwaktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakana dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.

Dalam ayat ini jelas kita diperintahkan untuk tidak ikut menyebarkan berita bohong. Seperti fenomena era internet dewasa ini, dimana kita begitu mudahnya men-share atau menyebar lewat jari jemari kita (kalau ayat ini mengatakan dengan dari mulut ke mulut), ketidakbenaran kemudian menjadi pengetahuan masyarakat yang dianggap benar. 

Jamaah Sholat Jumat yang berbahagia
Sekali lagi kita kembali kepada penegasan QS. 2:12 d atas tadi, agar kita tidak termasuk kedalam orang-orang yang membuat kerusakan dengan tidak menyadari nya bahwa kita telah turut andil dalam menyebarkan berita palsu, fitnah dan gosip yang berkembang dalam masyarakat yang akan menimbulkan perpecahan dalam masyarakat.  Segala perbedaan pendapat dan pandangan kita sikapi dengan bijaksana, menghargai orang lain yang berbeda, seraya selalu mengintrospeksi dan mengoreksi diri sendiri tidak kemudian merasa benar terhadap apa yang kita yakini saat ini. Jangan sampai kita menuduh orang lain picik sementara sebenarnya kitalah yang picik sebenarnya. Sebagaimana kelanjutan ayat ini, yaitu ayat 13 surat Albaqoroh menyindir soal ini:
“apabila dikatakan kepada mereka, “berimanlah kamu sebagaimana orang-orang yang lain telah beriman”, mereka menjawab, “akankah kami beriman sebagaimana orang-orang yang picik akalnya itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang picik, tetapi mereka tidak mengetahui

1 comment:

  • RSS
  • Delicious
  • ini apa
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube