Thursday, March 31, 2011

Teladan Rasulullah Saw.

Posted by KHUTBAH | 9:21 PM Categories:
اَلْحَمْدُ للهِ الّذِىْ اَكْرَمَ مَنِ اتَّقَى بِمَحَبَّتِهِ, وَاَوْعَدَ مَنْ خَالَفَهُ بِغَضَبِهِ وَعَذَابِهِ, اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَنَّ سَيْدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلى الدِّيْنِ كُلِّهِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ وَخَيْرِ خَلْقِهِ, وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِى سَبِيْلِهِ. اما بعد : فَيَااَيُّهَاالنَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Saat ini kita tengah berada pada bulan yang istimewa bagi  umat islam, yaitu  bulan Rabiul awwal yang dikenal juga dengan sebutan bulan maulid, Karena pada bulan ini tepatnya pada tanggal 12 Rabiul awwal telah terlahir manusia pilihan Tuhan, nabi dan rasul Allah, Muhammad Saw. Rasul teragung itu tidak hanya persembahan bagi alam semesta dengan segenap isinya, melainkan juga segenap alam malakut tunduk dan berkhidmat kepadanya.


Bulan ini kita kembali menapaki sejarah perjalanan hidupnya yang agung nan penuh teladan, menelusuri lorong-lorong kepribadiannya yang unik dan menawan, serta menghayati samudera kebijakannya yang luas terbentang. Tentunya, bukan hari ini atau bulan ini saja kita berkhidmat terhadap teladan dan akhlknya, akan tetapi semestinya Muhammad senantiasa menginspirasi setiap perjalanan langkah hidup kita.
Para cendikiawan, penulis, ataupun pujangga telah banyak menorehkan sirah, sejarah atau biografi sang Nabi dengan amat mengesankan. Bukan hanya dari kalangan muslim, bahkan banyak dari non muslim itu sendiri yang sungguh dalam dan luar biasa memberikan penghargaan kepada sang pemilik pribadi mulia ini. Berikut akan kita baca bagaimana kalangan non muslim mengomentari akhlak beliau:
‘Dia hidup dalam kerendahan hati yang sungguh-sungguh, yang melaksanakan kewajiban-kewajiban yang paling kasar sekalipun dengan kedua tangannya; dia menyalakan api, menyapu lantai, menyusui biri-biri, menambal pakaiannya sendiri dan memperbaiki sepatunya. Dia bekerja keras untuk memperbaiki nasib budak, yang membebaskan siapa saja yang dipersembahkan untuknya.’_Betram Thomas.
‘Dia yang berdiri sendirian, menghadapi selama bertahun-tahun kebencian kaumnya adalah pribadi yang sama yang tidak pernah menarik tangannya dari pegangan tangan orang lain; kekasih anak-anak, yang tidak penah melewati sekelompok anak kecil tanpa pernah tersenyum dari kedua matanya yang mengagumkan dan satu kata ramah untuk mereka, yang menyuarakan semua kebaikan dalam nada yang manis. Dia adalah salah seorang dari sedikti orang-orang bahagia yang telah mencapai keriangan utama untuk menjadkan satu kebenaran besar sebagai mata air kehidupan mereka. Dia adalah rasul dari Tuhan Yang Esa; dan tidak pernah sampai akhir hayatnya dia lupa siapa dirinya, atau pesan yang menjadi nafas keberadaanya. Dia membawa kabar berita kepada umatnya dengan kehormatan utama yang merekah dari kesadaran akan kedudukannya yang tinggi, bersama-sama  dengan sebuah kerendahan hati yang manis yang akar-akarnya terhampar dalam pegetahuan tentang kelemahannya sendiri.’_ Stanley Lane Poole.

‘Rasa kemanusiaannya merengkuhkan diri sampai ke makhluk-makhluk yang lebih rendah. Dia melarang pemakaian burung-burung yang hidup sebagai sasaran untuk para pemanah dan memprotes mereka yang memperlakukan onta mereka dengan buruk. Tindakan-tindakan jahat yang bodoh berkaitan dengan takhayul dibuangnya. Tak ada lagi onta orang yang sudah mati diikatkan pada kuburannya untuk menghapus rasa lapar dan dahaga. Tak ada lagi mata jahat didamaikan dengan pemberian darah domba. Tak ada lagi hujan dipanggil dengan mengikatkan obor yang membara ke ekor-ekor sapi. Bulu tengkuk dan ekor kuda tidak lagi dipotong atau pantatnya diberi cap.’_D.S. Margo Liouth.   

Ketika suatu hari sedang tidur di bawah pohon palem, Muhammad tiba-tiba bangun dan menemukan Du’thur sedang berdiri dihadapnnya dengan pedang terhunus.”Hai Muhammad, siapa yang akan menolongmu sekarang?” teriak lelaki itu. “Allah! Jawab Muhammad. Du’thur terpaku dan pedangnya terjatuh. Muhammad mengambil pedang itu dan berteriak:”Hai Du’thur, siapa sekarang yang akan menolongmu?” ”tak seorangpun,” jawab Du’thur. Maka belajarlah untuk mengampuni.” Kata Muhammad, dan menyerahkan kembali pedang itu. Du’thur kemudian menjadi salah satu sahabatnya yang paling teguh. _Gorham dalam Ethics of the Great Religions.

Demikianlah gambaran Muhammad dengan kepribadiannya yang teramat luhur, bagaimana al-qur’an saja melukiskan demikian : انك على خلق عظيم  sesungguhnya engkau berada pada akhlak yang agung.
Namun tidak sedikit pula dari manusia yang mencercanya, menghinanya bahkan menistakannya. Mereka melontarkan tuduhan-tuduhan keji terhadap sang nabi dengan nada provokatif, memancing kemarahan umat islam dengan menyentuh sensitifitas fanatisme agama. Mereka sengaja menciptakan huru-hara dan  kerusuhan ditengah umat yang sangat menjunjung toleransi itu. 

Maka merebaknya berbagai kerusuhan atas nama agama, ternodailah agama yang cinta damai itu karena ketidaksabaran pemeluknya sendiri, berbagai stigma dan cap teroris tak pelak disematkan bagi pemeluk agama  yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kemanusiaan itu. Ditambah lagi dengan tindakan para ektrimis agama yang menghakimi masa yang berseberangan karena kepicikan pandangan dan tafsir yang sempit dari teks-teks agama. 

Dan yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana umat islam harus lebih bersabar dan jernih dalam melihat persoalan. Jangan main hakim sendiri, karena kita berada dalam suatu negara hukum dengan segenap aparaturnya. Jangan mudah terpancing dengan provokasi-provokasi yang tak terduga, karena boleh jadi ada pihak-pihak yang tidak senang melihat umat ini rukun dan bersatu. Dan tetaplah berpegang teguh terhadap nilai toleransi yang diajarkan Al-Qur’an : “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertakwalah kepada Allah.”

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى اَمَرَنَا بِالاتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَّ ِالهَ ِالاَّ للهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اِيَّاهُ نَعْبُدُ وَاِيَّاهُ نَسْتَعِيْنَ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ. اَلّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ علَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَالله اِتَّقُ اللهَ تَعَالَى رَبَّ الْعَالمَِيْنَ. وَسَارِعُوْ اِلى مَغْفِرَةِ اللهِ الْكَرِيْمِ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَلَى بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى

0 komentar:

Post a Comment

  • RSS
  • Delicious
  • ini apa
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube