Sunday, December 29, 2013

Diam itu Emas

Posted by KHUTBAH | 9:23 PM Categories: ,


Khotib ingin mengawali khutbah ini dengan penggalan bait puisi yang digubah oleh ulama sufi dari Sekarjalak Pati, K.H. Muhammad Zuhri :
Jika kata-kata punya sayap
Diam punya darah dan syaraf
Bila bicara punya matahari
Diam lebih dalam dan misteri

Diam, bukan sekedar kata yang mempunyai makna semantik, namun dalam terminologi sufi, diam menjadi kata kunci pada tahap pendakian ruhani. Diam pada ungkapan puisi tersebut di atas adalah dalam dan penuh misteri. Gambaran yang meniscayakan adanya sesuatu yang tersembunyi, dan sesuatu yang tersembunyi biasanya akan selalu bernilai tinggi, seperti mutiara yang tersembunyi di dasar samudera. Diam itu emas, bicara itu perak, demikian Luqman berpesan kepada putranya.
Diam menjadi bagian dari tirakat bagi penempuh-penempuh jalan ruhani. Dan puasa pada esensinya adalah diam; berhenti makan, berhenti minum, berhenti bicara yang tak berguna, berhenti melakukan hal-hal yang tak berfaedah. Demikian juga pada wukuf, yang merupakan salah satu rukun dan puncak ibadah haji, diam mengambil bagian yang besar pada ritual tersebut. Pada puasa atau pada wukuf, diam bukan bermakna pasif atau fatalis, tapi diam yang mempersiapkan energi besar untuk sebuah perubahan besar pada diri orang mukmin, dari destruktif menjadi konstruktif, dari tentatif menjadi kreatif.
Metode diam bagi manusia sebenarnya metode ilahi agar manusia melakukan transformasi diri. Demikian juga bagi makhluk Allah yang lainnya seperti hewan, metode diam juga harus ditempuh untuk kelangsungan hidupnya dan agar tetap lestari. Ulat, dia harus berdiam diri sejenak menjadi kepompong untuk mencapai kehidupan baru menjadi kupu-kupu. Induk ayam harus mengeram (berdiam) selama 21 hari untuk melahirkan generasi barunya. Dan ular, harus bertapa untuk meremajakan kulitnya, dan menemukan kembali elastisitasnya dalam bergerak.
Jamaah sholat Jum’at yang berbahagia           
Nabi Saw, para ulama terkemuka banyak memberikan tuntunan dengan diam sebagai jalan keselamatan dibanding ucapan lisan yang sering kali mengelincirkan. Nabi Saw bersabda : "Keselamatan itu ada pada sepuluh bagian, sembilannya ada pada diam dan yang satunya menghindari dari kebanyakan manusia". Dalam hadits lain Nabi Saw menegaskan “ Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya “ (HR. Ath Thabarani, Ibnu Abi Dunya dan Al Baihaqi). Demikian pula Al Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin berkata : “ Ketahuilah bahwa lidah bahayanya sangat besar, sedikit orang yang selamat darinya, kecuali dgn banyak diam “.
 
Demikian para ulama, para mukmin-mukmin terkemuka memilih diam sebagai pilihan agar terhindar dari bahaya, selamat dunia akhirat, menjadikan bicara  penuh kehati-hatian, selektif dalam memilih kata karena akibatnya yang akan ditimbulkannya amat luas dengan ucapan yang salah. Sebagaimana ulama besar Hasan al-Basri memberikan tuntunan dalam berbicara : “ Sesungguhnya lidah orang mukmin berada dibelakang hatinya, apabila ingin berbicara tentang sesuatu maka dia merenungkan dengan hatinya terlebih dahulu, kemudian lidahnya menunaikannya. "Sedangkan lidah orang munafik berada di depan hatinya, apabila menginginkan sesuatu maka dia mengutamakan lidahnya daripada memikirkan dulu dengan hatinya.
Jamaah sholat Jum’at yang berbahagia
Dalam halnya memilih mana yang lebih baik, diam atau bicara, maka khotib menyimpulkan dari beberapa hadits Nabi saw, kapan atau bilamana harus diam dan kapan atau bilamana harus bicara? Ada tiga situasi dimana kita dituntut untuk bicara dari pada diam, tanpa meninggalkan kesan sedikitpun bahwa bicara lebih baik dari pada diam.  Diam tetap menjadi pilihan yang anggun bagi para penempuh jalan suci. tiga situasi tersebut antara lain :
            1.  Kita dituntut bicara untuk mengingat (berzikir) kepada Allah.
قال صلي اللة عليه وسلم: أصل الايمان السكوت الا عن ذكر الله تعلئ
‘Asal iman itu adalah diam, kecuali berzikir kepada Allah swt’. Dalam hadits ini dapat kita pahami bahwa bicara selain untuk keperluan mengingat Allah adalah bathil, dan bicara dalam konteks ini diharuskan.
2. Kita dituntut bicara untuk mengatakan hal-hal yang mengandung kebaikan. Amar Ma’ruf- nahyi mungkar termasuk dalam katagori ini, Hadits Nabi saw:
قال صلي اللة عليه وسلم:فليقل خيرا او ليصمت
‘Berkatalah yang baik atau lebih baik diam’. Kita senantiasa diharuskan untuk berbicara hal-hal yang baik atau yang mengandung kebajikan. Kalau kita tidak mampu untuk berbicara yang baik, maka jangan paksakan untuk berbicara yang tak berfaedah. Maka diam lebih baik dari pada berbicara yang tidak mendatangkan manfaat.

            3. Kita dituntut bicara dalam rangka belajar dan mengajarkan.
قال صلي  اللة عليه وسلم: سكوت العالم شين وكلامه زين , و كلامه الجاهل شين وسكوته زين
‘Diamnya orang alim adalah jelek, dan perkataannya adalah bagus, sedang perkataan orang jahil adalah jelek dan diamnya adalah bagus’. Bagi orang jahil, diam akan lebih menyelamatkan dari pada berbicara salah. Dalam konteks ini, mencegah maksiat lebih baik dari pada mengerjakan ketaatan. Sedangkan bagi orang alim, maka bicara lebih baik dari pada diam karena manfaatnya yang luas.

Jamaah sholat jum’at yang berbahagia

Semoga khutbah ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua dan kita termasuk orang-orang yang selamat dengan menjaga dan mempergunakan lisan kita sebagaimana yang diajarkan Nabi Saw. Amin  ya rabbal alamin.

0 komentar:

Post a Comment

  • RSS
  • Delicious
  • ini apa
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube