Sunday, April 6, 2014

Manusia bermartabat

Posted by KHUTBAH | 1:21 AM Categories: ,


Masyarakat jahiliyah ketika Muhammad lahir terperangkap dalam supremasi kesukuan yang sungguh berlebihan, garis keturunan yang amat diagungkan, penistaan terhadap kaum wanita, bayi wanita dikubur hidup-hidup, lebarnya jurang pemisah antara kaya dan miskin, antara pembesar dan para budak. Muhammad lahir membawa misi terciptanya persamaan antar sesama manusia, persamaan hak dan kewajibannya di sisi Allah swt. Pelan tapi pasti perbudakan dihapuskan. Muhammad hendak membawa terbang tinggi ke angkasa derajat martabat kemanusiaan semua individu. Tidak ada yang saling merendahkan satu sama lain karena perbedaan latar belakangnya. Harkat dan martabat seseorang tidak diukur dari pangkat, kedudukan dan kekayaannya melainkan sejauhmana ia menjunjung tinggi dan menjalankan prinsip-prinsip moral dan etika.

Maka pada awal tugas dakwahnya, kebanyakan pengikut Muhammad adalah mereka yang tergolong kaum yang lemah;anak-anak, kaum wanita, para budak, dan para kaum papa. Hal tersebut mencerminkan bahwa Muhammad tidak memandang kedudukan dan kemewahan menjadi ukuran tinggi martabat seseorang. Muhammad tidak memilah-milah kawan, tidak memilih-milih target dan sasaran dakwahnya. Muhammad merangkul semua kalangan, terutama yang tergolong lemah saat itu.  
Jamaah sholat Jum’at yang dirahmati Allah

Muhammad adalah sebagai sosok yang amat bersahaja, menjadikan kemiskinan sebagai kebanggannya, yang senantiasa berdoa agar tetap terjaga dalam kemiskinan, memohon terpelihara bersama orang-orang miskin, dan mati dalam keadaan miskin. Dialah sang Nabi yang penghargaannya terhadap kaum yang lemah amat mengesankan. Rasa kemanusiaannya merengkuh hingga ke lorong-lorong nasib manusia yang paling mengenaskan. “aku dan seorang wanita yang kulit dan pipinya telah hitam karena terbakar matahari akan berdekatan satu sama lain di akhirat seperti dua jariku; dan dia adalah seorang janda tangguh, yang kulit dan pipinya menghitam karena menghidupi keluarganya’, begitu dalam sabdanya.

Bukan Nabi benci terhadap kekayaan, namun kekayaan yang merupakan buah dari kejujuran, dijalankan dengan benar akan mendatangkan keberkahan. “barang siapa menginginkan dunia dan kekayaannya dengan cara yang benar, dalam rangka menjauhkan dirinya dari meminta, dan untuk menghidupi keluarganya, dan untuk berbuat baik kepada tetangganya, akan datang kepada Tuhan dengan wajah yang cerah seterang rembulan di hari keempat belas bulan purnama”. Begitulah cara Nabi memandang dan menempatkan harkat martabat manusia karena kemuliaannya di sisi Tuhan. 

Berbanding terbalik dengan realitas saat ini dimana kita masih membedakan kedudukan manusia dalam cara pandang materialistis. Ukuran seperti asal-usul, latar belakang keluarga, jabatan, profesi dan kepintaran seseorang masih jadi faktor kehormatan dan kemuliaan seseorang. Kasarnya, harkat martabat seseorang masih kita pandang dari segi bibit,  bebet dan bobotnya seseorang. Seperti halnya pribahasa mengatakan ada gula, ada semuat; kebanyakan orang kaya atau yang terpandang karena jabatannya sering dikerumuni banyak orang, selalu menjadi pusat perhatian bahkan dielu-elukan. Sementara si miskin dibiarkan tersisih dalam kancah pergaulan.

Beragam upaya pun dilakukan untuk meningkatkan status kedudukan di mata manusia; pencitraan, rekayasa, manipulasi sampai korupsi adalah upaya untuk meraih kekayaan dan kehormatan semu belaka. Ratusan juta dikeluarkan hanya untuk menjadi seorang kepala desa, milyaran bahkan puluhan milyar dipertaruhkan untuk menjadi seorang anggota dewan perwakilan rakyat dan seterusnya. Bayangkan, seorang calon pejabat publik yang sejatinya akan menjadi acuan moral rakyatnya melakukan tindakan yang jauh dari kesan bermartabat. Jabatan yang sejatinya merupakan amanat Tuhan, diperebutkan untuk meningkatkan ‘derajat’ dimata manusia. Jabatan menjadi sesuatu yang diperjualbelikan bukan yang harus ditempati oleh orang yang mempunyai kecakapan dan integritas tinggi

Yang paling amat memprihatinkan, menyedihkan sekaligus menggelikan, di Surabaya, salah satu rumah sakit jiwa telah menyiapkan tempat khusus untuk para calon anggota legislatif (caleg) yang depresi, stress bahkan gila karena tidak jadi terpilih menjadi anggota dewan, mengingat fenomena ini memang benar terjadi pada periode sebelumnya. Bisa dibayangkan, jabatan publik yang masyarakat bergantung pelayanan darinya, harus diisi oleh orang-orang yang bermasalah secara mental. Maka jabatan atau kekuasaan tidak dijalankan berdasarkan amanah untuk mengabdi, melainkan dijadikan sarana untuk mengais ‘rezeki’, menumpuk pundi-pundi untuk diri sendiri, bahkan melanggengkan sebuah dinasti.
Jamaah sholat Jum’at yang dirahmati Allah

Kekuasaan, kekayaan manusia tidak akan langgeng. Sesaat, seketika, Allah akan mencabut kekuasaan dan kekayaan itu kapanpun Ia mau. Hanya kemuliaan seseoranglah yang akan tetap hidup menemani manusia dalam hidup dunia hingga di akhirat nanti. Sebagai penutup khutbah ini, baik kita simak firman Allah swt
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكِ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرُ
Katakanlah:"Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan engkau cabut kekuasaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

0 komentar:

Post a Comment

  • RSS
  • Delicious
  • ini apa
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube