Saturday, March 7, 2015

Pada khutbah Jum'at kali ini, khotib ingin menyampaikan tema bahwa jihad akbar adalah jihad melawan nafsu tirani. Sepanjang perjalanana pulang ke Madinah sesudah kemenangan atas Mekkah dan Hunayn, Nabi menuturkan kepada beberapa sahabatnya, “kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar”. Salah seorang bertanya, “apa jihad yang lebih besar itu, wahai Rasulullah?”, beliau menjawab, “jihad melawan hawa nafsu.”

Nafsu atau nafs dalam bahasa arab lebih umum digunakan sebagai “diri” yakni dalam penggunaan bahasa sehari-hari, seperti diriku dan dirimu. Ada juga yang menterjemahkan nafs sebagai “jiwa” atau “ego”. Nafs berasal dari interaksi roh dan jasad. Ketika roh memasuki jasad, ia terbuang dari asalnya yang bersifat immateri, kemudian nafs pun mulai terbentuk. Karena nafs berakar di dalam jasad dan roh, ia mencakup kecenderungan material dan spiritual.

Istilah jihad yang dikemukakan Rasulullah dalam menundukan nafs mengisyaratkan akan selalu ada pertempuran dalam diri manusia antara dua kecenderungan, kecenderungan kepada kejahatan dan kecenderungan kepada kebaikan. Kecenderungan kepada kejahatan inilah yang dinamakan dengan nafsu tirani, nafsu ammarah, nafsu yang selalu memerintahkan kepada perbuatan-perbuatan buruk; penumpukan harta kekayaan, kekuatan, kekuasaan, kepuasan ego dengan menghalalkan segala cara dan pelampiasan kepuasan seksual dengan cara yang tidak halal, memilih partner seks mereka secara serampangan tidak berdasarkan syariat yang dibenarkan agama maupun moral. 

Celakanya lagi, nafsu tirani ini pandai bersembunyi dari kesadaran, ia bekerja diluar kesadaran kita. Ia sepertinya berbicara dengan suara kita sendiri dan mengungkapkan hasrat kita yang terdalam, sehingga kita sering tidak menyadarinya apalagi melawannya. Kita kerap merasionalisasi perbuatan buruk kita sendiri, menganggap benar dan pantas apa yang sudah kita lakukan. Nafsu tirani mendominasi kita tanpa kita ketahui. Inilah mengapa begitu banyak orang yang pada sebagian besar masa hidupnya bertindak di bawah dominasi diri tiraninya.

Dalam hal mengukur perbuatan kita apakah termasuk kabaikan atau tirani, sebenarnya konsepnya sederhana, berpijak pada perkataan Nabi tentang perbuatan buruk; perbuatan yang engkau malu orang lain melihatnya, itulah keburukan. Ketika kita berada pada jalan yang benar mengapa kita harus takut dan merasa malu kepada manusia. Tahap selanjutnya kita akan mengetahui betapa intensitas kehadiran Tuhan pada diri kita akan menjadi ukuran seberapa besar perbuatan itu menjadi baik di mata Tuhan.

Jamaah Sholat Jum’at yang berbahagia

Sementara kecenderungan kebaikan yang ada pada diri manusia itulah nafsu yang sudah bertransformasi, dalam bahasa al-Qur’an nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan.
وَمَآأُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَارَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 12:53)

Dalam khazanah sufi, nafs itu sendiri mempunyai tingkatannya. Tingkatan nafsu yang paling rendah adalah nafsu Tirani atau atau nafsu ammarah. Nafsu inilah yang senantiasa memerintahkan manusia untuk berbuat jahat, sebelum akhirnya manusia mulai tumbuh kesadaran dalam dirinya. Pada saat manusaia berada pada tahap awal dalam bertransformasi.
وَلآأُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَة  dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS. 75:2).

 Jamaah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah

Lalu bagaimana kita dapat belajar mengendalikan diri kita dan meninggalkan nafsu tirani ini? Bagaimana kita dapat mengubah sifat negatif kita menjadi sifat positif; contohnya mengubah kekikiran menjadi kedermawanan; kemarahan menjadi pengertian, dan keserakahan menjadi ketidakterikatan. Selain itu kita juga harus menyucikan dan membuka hati kita.

Salah satu cara menyucikan hati kita adalah melalui praktik melepaskan diri dari dunia dan mengingat Tuhan, yang akan memancarkan cahaya hati dan membuat kita peka. Hati juga terbuka oleh kebaikan dan pengabdian. Syekh Muzaffer sering menuturkan bahwa setiap senyuman dan kata-kata yang baik akan memperlembut hati, tapi setiap kata maupun tindakan keji akan memperkeras hati. Ia menjelaskan bahwa berperilaku baik adalah sebuah perjuangan.

Maka konteks ungkapan Nabi bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu menemukan relevansinya pada perjuangan dan pengorbanan kita dalam perbuat kebaikan secara terus menerus. Segenap kebaikan yang kita lakukan akan semakin membuka hati, melembutkan hati, dan menentramkan hati. Hati adalah cermin lahi, pada saat sinar ketuhanan semakin terang terpantul dari cermin hati, maka semakin kita akan memperoleh nafsu yang dirahmati Tuhan. Dan pada akhirnya kita akan termasuk orang yang digambarkan Al-Qur’an mempunyai nafs, diri, atau jiwa yang tenang.

يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلىَ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَةً . فَادْخُلِي فيِ عِبَادِي . وَادْخُلِي جَنَّتِي

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. 89:27-30)

0 komentar:

Post a Comment

  • RSS
  • Delicious
  • ini apa
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube